|
Notulen Lokakarya |
Rekomendasi Lokakarya
|
Pernyataan Untuk
Memperkokoh Kemitraaan Kehutanan Wilayah Asia
Rekomendasi Lokakarya
Kemitraan Kehutanan Wilayah Regional Asia
(Asia Forest Partnership -AFP)
30 Agustus - 1 September 2004, di Yogyakarta, Indonesia
Lokakarya menghasilkan beberapa kesepakatan, yaitu:
- Aspek penyelenggaraan organisasi: merekomendasikan agar dalam pertemuan
AFP mendatang diadakan diskusi tentang langkah nyata apa yang akan dilakukan
untuk memperkokoh Kemitraan Kehutanan Wilayah Asia (AFP) yakni dengan
mempertimbangkan saran dan pandangan para peserta yang telah dirangkum dalam
catatan Lokakarya yang dilampirkan dalam rekomendasi ini. Berkaitan dengan
hal tersebut, Lokakarya juga telah menerima naskah dari Indonesia yang
berjudul pernyataan untuk Memperkokoh Kemitraan Kehutanan Wilayah Asia yang
akan didiskusikan pada Pertemuan AFP yang keempat di Tokyo pada bulan
Desember 2004. Naskah pernyataan tersebut disajikan dalam Lampiran
- Aspek prioritas kegiatan: permasalahan utama dalam kebakaran dan
rehabilitasi hutan dirangkum sebagai berikut:
- Kebakaran hutan, degradasi hutan, dan kegiatan reforestasi
yang terjadi pada suatu wilayah sebaiknya dipandang secara menyeluruh.
Semua rencana kerja sebaiknya disusun oleh seluruh kelompok mitra AFP
dengan menggunakan pendekatan holistik serta dilaksanakan secara
bersama-sama pada tingkatan negara masing-masing.
- Mendefinisikan dan menggolongkan terminologi yang berbeda-beda sehingga
tercapai kesepahaman yang harmonis antara mitra AFP serta menggunakan
terminologi yang sudah berlaku umum dan digunakan juga oleh
kelompok-kelompok inisiatif yang lain, baik di wilayah regional tersebut
maupun ditingkat global.
- Pembiayaan merupakan faktor yang sangat penting. Meskipun demikian,
untuk beberapa sektor, telah disepakati adanya mekanisme internal
(Indonesia). Sebelum digunakan, mekanisme pembiayaan tersebut perlu dikaji
secara mendalam yakni dengan mempertimbangkan faktor ketersediaan dan
keberlanjutannya. Selain itu, terdapat beberapa kelompok inisiatif pendanaan
seperti ITTO, Kyoto protocol - CDM, dan Swap for the Nature. Informasi
mengenai kelompok-kelompok inisiatif tersebut perlu dikumpulkan oleh AFP dan
disebar luaskan kepada anggota dan para mitranya.
- Dalam beberapa kasus, biaya reforestasi dan rehabilitasi hutan telah
tersedia, namun lahannya yang justru tidak tersedia. Oleh karena itu,
rencana kegiatan reforestasi dan rehabilitasi hutan perlu dikaji ulang pada
tingkatan negara masing-masing yakni dengan menyusun proyek kemitraan yang
spesifik di bawah program AFP, bersama mitra negara dan masyarakat lokal
yang turut serta dalam program tersebut.
- Untuk melakukan pekerjaan secara kolaboratif dalam melaksanakan rencana
kerja dibutuhkan sikap saling menerima dan mau bekerjasama untuk mencapai
tujuan bersama, walaupun masing-masing mempunyai kepentingan yang berbeda.
Dalam hal ini, keterlibatan sektor swasta sangat dibutuhkan. Insentif dan
disinsentif dalam bekerja secara kolaboratif perlu diuraikan secara jelas
dan benar, serta dalam konteks kemitraan yang didasarkan atas kejujuran dan
saling percaya antara pemerintah, swasta, LSM, dan masyarakat lokal.
- Pada saat ini sudah terdapat laporan penelitian, data dan statistik yang
sudah tersedia dan didokumentasikan dengan baik. Dengan demikian unit
penyedia informasi AFP perlu mengumpulkan informasi tersebut dan
menyebarkannya pada seluruh mitra AFP. Untuk penelitian yang akan
dilaksanakan selanjutnya sebaiknya didasarkan pada penelitian terapan yang
disesuaikan dengan keadaan dan kepentingan wilayah regional.
- Berbagai kegiatan yang akan dilakukan oleh anggota dan mitra AFP harus
lebih spesifik pada tingkatan lokal, regional dan sub-regional sehingga
lebih efektif dan mampu mengakomodir permasalahan yang terjadi di lapangan.
- Setiap tingkatan kegiatan akan melibatkan multi pihak. Karena itu,
keterkaitan, peranan, dan tindakan apa yang akan dilakukan oleh setiap
pelaku (stakeholder) pada berbagai tingkatan perlu diketahui dengan jelas
sehingga pihak lain menjadi maklum dan tidak melakukan peran atau kegiatan
yang sama.
- i. Iklim investasi merupakan hal yang penting dalam melibatkan sektor
swasta. Pemerintahan negara di wilayah ini perlu mengakui perlunya
keterlibatan sektor swasta dalam kemitraan melalui pemberian konsesi serta
jaminan keamanan investasinya dalam jangka waktu panjang, sehingga rencana
kerja yang dibuat dapat terlaksana dengan baik serta membuahkan hasil.
- j. Pokok-pokok utama untuk dipertimbangkan:
- pendekatan masalah dilakukan secara holistik
- penyusunan rencana kerja berdasarkan fakta dan data ilmiah
- penerapan rencana kerja secara kolaboratif pada tingkatan
masing-masing kegiatan
- pengembangan kemitraan sebaiknya atas dasar kepercayaan, kejujuran,
dan saling menghargai antara satu dengan yang lainnya
- kegiatan yang dilakukan harus berdasarkan prioritas menurut tingkat
kepentingan dan urgensinya
- kegiatan tersebut harus mudah dilaksanakan, realistis, jelas, dan
terfokus.
- Aspek prioritas kegiatan: permasalahan utama dalam
penebangan liar dan rantai perdagangannya dirangkum berikut ini:
- Menyempurnakan analisis untuk mengidentifikasi kriteria
legalitas yang sudah ada dan yang masih dibutuhkan oleh negara pengimpor
sehingga memungkinkan importir mencegah impor kayu yang jelas terbukti
ilegal (rencana kerja yang sedang berjalan, sudah dibiayai) dan
meningkatkan upaya penegakannya di lapangan.
- Merekomendasikan penyusunan rencana kerja yang baru untuk meningkatkan
kolaborasi yang aktif diantara institusi bea-cukai yang ada pada
masing-masing negara mitra, penyusunan aturan pertukaran informasi, dan
saling berbagi permasalahan dan pengalaman (difasilitasi oleh TNC dan
Program Nota Kesepahaman antar Inggris/Indonesia).
- Menyempurnakan rencana kerja yang sedang berjalan dengan standar
legalitas dan asal usul kayu dengan mengikutsertakan mitra yang lain dan
mengkaji ulang pengalaman keberhasilan upaya-upaya lainnya yang relevan
(melalui fasilitas CIFOR, sudah dibiayai).
- Melaksanakan pertemuan lapangan di daerah perbatasan antar negara
yang rawan terjadinya penebangan liar dan penyeludupan kayu (misalnya:
perbatasan Kalimantan Timur dan Malaysia) yakni dengan melibatkan
personil-personil dari penegak hukum, LSM, dan pakar (rencana kerja yang
baru akan disusun oleh WWF-Indonesia bekerjasama dengan AFP, belum
dibiayai).
- Mengundang panitia kecil dari setiap mitra AFP untuk mengikuti
pertemuan AFP keempat di Tokyo pada bulan Desember 2004 dalam rangka
mempersiapkan rekomendasi yang terperinci dalam koordinasi antara FLEGT
dan AFP.
- Sementara itu, Sekretariat AFP akan berkomunikasi dengan peserta FLEGT
melalui e-mail (difasilitasi Sekretariat FLEGT) untuk memperoleh pandangan
kedua belah pihak dan akan digunakan sebagai dasar rekomendasi panitia
kecil.
- Pemerintah, swasta, dan masyarakat umum bekerjasama menciptakan suatu
sistem verifikasi legalitas kayu.
- AFP) menyusun panduan untuk membuat definisi internasional tentang
legalitas penebangan dan perdagangan kayu.
- Meningkatkan pelaksanaan standar dan metode pemberantasan kegiatan
penebangan liar dan rantai perdagangannya (misalnya: kriteria dan indikator
untuk pengelolaan hutan lestari, serta pola sertifikasi).
- Mempromosikan perdagangan internasional produk kayu yang didasarkan pada
aspek legalitas, transparansi, dan tata kelola.
- Menyelenggarakan lokakarya tingkat regional yang membahas tata kelola dan
desentralisasi kehutanan dalam konteks prioritas AFP
- Mempertimbangkan serta memanfaatkan inisiatif yang ada dan mekanismenya yang
masih berjalan di wilayah Asia yang telah diberi tugas untuk menaggulangi tiga
permasalahan prioritas AFP. Selain itu, perlu juga melengkapi dan mendukung
inisiatif dan mekanisme ini dalam kaitannya dengan ketiga permasalahan prioritas
AFP
- AFP sebaiknya melakukan langkah nyata dengan mengintensifkan kegiatan
pemberantasan penebangan liar dan rantai perdagangannya pada tingkat nasional
dan regional
Yogyakarta, 1 September 2004
General Rapporteur:
Nandang Prihadi
Draft as of 30 August 2004 17.23
Kembali |
Kembali ke Key Document
|